SENGETI - Kekecewaan pelaku UMKM lokal memuncak pada gelaran MTQ ke-54 Tingkat Provinsi Jambi. Alih-alih mendapat pembinaan seperti lazimnya kegiatan pemerintah, para pedagang justru merasa dikorbankan akibat keputusan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Muaro Jambi yang menyerahkan total penataan lapak kepada pihak event organizer (EO).
Keputusan tersebut berbuntut pada melambungnya tarif sewa tenda yang dipatok antara Rp3 juta sampai Rp5 juta, angka yang dinilai tidak masuk akal untuk sebuah acara yang hanya berlangsung beberapa hari.
“Biasanya pemerintah yang menata dan membina. Tapi sekarang semua dikasih ke EO. Kami mau tidak mau bayar mahal,” ujar salah satu pedagang asal muaro jambi Soni sabtu malam (15/11/25).
Tidak Ada Anggaran untuk UMKM, Semua Beban Dilimpahkan ke Pedagang
Informasi di lapangan menyebutkan, dinas terkait hanya menganggarkan pembiayaan untuk stand pameran resmi milik kabupaten/kota. Tidak ada alokasi untuk pedagang UMKM lokal, sehingga mereka harus menanggung semua biaya tanpa subsidi maupun pendampingan.
Kondisi ini memunculkan kritik keras karena pemerintah daerah dinilai absen dalam melindungi para pelaku usaha kecil yang notabene menjadi penggerak ekonomi lokal.
“UMKM itu tulang punggung ekonomi daerah. Kalau di momen besar seperti ini saja diabaikan, bagaimana mereka mau berkembang?” tegas salah satu pedagang UMKM Muaro Jambi sandi.
DPRD: Harga Sewa Tidak Wajar, Berpotensi Cemarkan Nama Daerah
Keluhan pedagang akhirnya sampai ke telinga DPRD. Usman Halik, anggota DPRD Muaro Jambi, menilai tarif sewa mencapai Rp3–5 juta tidak wajar dan memberatkan pedagang.
“Kalau dihitung, pedagang harus mencari Rp600 ribu per hari hanya untuk menutup biaya sewa. Itu tidak masuk akal,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Menurut Usman, harga tersebut mungkin bisa diberlakukan di Kota Jambi atau kota besar lain, namun tidak relevan untuk kondisi Muaro Jambi yang akses dan mobilitas pengunjungnya berbeda.
“Acara ini tidak setiap hari ramai. Sangat berbeda dengan Kota Jambi. Ini bisa merusak citra Kabupaten Muaro Jambi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dugaan adanya pihak yang mencoba meraup keuntungan pribadi dari ajang keagamaan tersebut.
Solusi Murah Ada, Tapi Tidak Digunakan
Usman menyebut, jika panitia menggunakan tenda standar seperti tenda pengantin, biaya sewa sebenarnya bisa ditekan hingga Rp300 ribu untuk satu minggu.
Ia mendesak panitia mengevaluasi total skema sewa yang diterapkan EO.
“Kami minta panitia segera mengevaluasi harga sewa ini,” lanjutnya.
Pedagang: Bertahan atau Pulang dengan Kerugian Sementara itu, para pedagang kini terjebak dalam dilema: tetap berjualan dan menanggung biaya mahal dengan risiko rugi, atau pulang dengan tangan hampa.
Dengan minimnya perhatian dan ketiadaan intervensi dari dinas terkait, keluhan terus mengalir. MTQ yang seharusnya membawa berkah bagi pedagang kecil, justru berubah menjadi beban berat yang menyesakkan.

Social Header