Breaking News

Dapur MBG Sengeti Tercemar Bakteri, Satgas Keluarkan 9 Rekomendasi Wajib: Operasional Dihentikan Sementara

 



SENGETI - Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Muaro Jambi mengeluarkan sembilan rekomendasi tegas dan wajib dijalankan kepada pengelola Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti, Kecamatan Sekernan.

Langkah itu diambil setelah hasil uji laboratorium memastikan makanan yang diproduksi pada Jumat (30/1/26) terkontaminasi bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (E. coli) — dua jenis bakteri yang dapat memicu gangguan kesehatan serius jika dikonsumsi.

Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Muaro Jambi, Ardanus, menegaskan bahwa rekomendasi tersebut bukan sekadar catatan evaluasi, melainkan perintah perbaikan sistem yang harus segera dilaksanakan oleh Yayasan Aziz Rukiyah Amanah selaku pengelola dapur.


“Ini bukan sekadar formalitas. Semua poin wajib dijalankan. Kami akan turun langsung mengecek implementasinya di lapangan,” tegas Ardanus.


Menurut Ardanus, temuan bakteri menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam sistem pengendalian higiene dan sanitasi dapur. Produksi makanan dalam skala besar, kata dia, menuntut disiplin prosedur yang ketat, konsisten, dan terdokumentasi.


“Kalau SOP tidak dijalankan secara disiplin, risiko kontaminasi sangat tinggi. Ini menyangkut konsumsi dalam jumlah besar. Dampaknya bisa luas,” ujarnya.
Satgas menegaskan fokus utama bukan sekadar merespons insiden, melainkan membenahi sistem dapur secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.


Saat ini operasional dapur masih dihentikan sementara. Keputusan untuk kembali beroperasi berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
“Untuk sekarang masih dihentikan. Soal boleh beroperasi kembali itu kewenangan BGN Pusat,” jelas Ardanus.

Wakil Ketua II DPRD Muaro Jambi, Jurjani, menilai rekomendasi Satgas bukan sekadar administrasi, melainkan menyangkut keselamatan masyarakat.
“SPPG harus menjalankan seluruh rekomendasi. Ini soal keselamatan publik. Tidak boleh ada kelalaian sedikit pun,” tegasnya.


Ia mengingatkan bahwa dalam produksi makanan massal, satu kelalaian kecil saja bisa berdampak besar.
“Kami harap pengurus SPPG konsisten menjalankan SOP. Jangan hanya bergerak setelah ada kejadian,” ujarnya.


Berikut sembilan poin yang wajib dilaksanakan SPPG Sengeti:


Memperkuat penerapan Good Hygiene Practices (GHP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) secara tertulis di setiap tahapan produksi.


Proses memasak dimulai pukul 02.00–03.00 WIB untuk memastikan alur produksi dan distribusi terkendali.


Menyediakan pintu terpisah antara jalur karyawan dan penerimaan bahan baku, lengkap dengan dokumen administrasi barang masuk.


Menyediakan ruang pendinginan khusus pasca-pemasakan dengan penyimpanan tertutup dan suhu terkontrol.


Memantau dan mencatat suhu pangan matang secara rutin hingga tahap pembersihan.


Memperbaiki pengelolaan ompreng sesuai SOP untuk mencegah kontaminasi silang.


Menggunakan air yang memenuhi standar kualitas kesehatan dalam seluruh proses pengolahan.


Memastikan sumber air berjarak lebih dari 10 meter dari limbah serta mengelola sistem pembuangan sesuai kapasitas produksi.


Mewajibkan seluruh tenaga dapur menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.


Satgas menegaskan, perbaikan harus bersifat sistemik dan berkelanjutan. Produksi makanan dalam program publik, terutama yang menyasar masyarakat luas, tidak boleh hanya mengejar kuantitas, tetapi wajib menjamin keamanan dan standar kesehatan yang ketat.


© Copyright 2022 - Jambibaba.id