JB, SENGETI - Di Desa Talang Belido, warga sudah sampai di titik jenuh. Jalan rusak yang dibiarkan berlarut bukan sekadar soal infrastruktur—ini soal kepercayaan yang kian terkikis.

Upaya meredam rencana aksi warga pada Senin (30/3) memang sudah dilakukan.

Tim gabungan turun, rapat digelar, bahasa “kondusif” kembali dipakai. Namun di balik itu, substansi masalah justru belum bergerak satu meter pun. Pemerintah mengakui perbaikan adalah prioritas, tetapi prioritas yang harus antre.


Alat berat yang menjadi kunci justru masih “parkir” di desa lain. Motor grader dan vibrator roller belum bergeser dari Ladang Panjang, sementara backhoe loader masih dalam perjalanan dari Mestong. Alasan teknis ini mungkin terdengar masuk akal di atas kertas, tetapi bagi warga yang setiap hari melintasi jalan rusak, itu terdengar seperti pengulangan alasan lama.



Ironinya, solusi yang ditawarkan menjelang aksi justru bersifat tambal sulam. Satu unit alat dijanjikan akan langsung dikerahkan ke titik demo pada hari H—sebuah langkah yang lebih mencerminkan respons terhadap tekanan ketimbang komitmen penyelesaian. Ini bukan perbaikan, ini pemadaman situasi.


Lebih jauh, janji pengerjaan penuh baru akan dimulai setelah 2 April. Artinya, warga diminta kembali bersabar, menunggu giliran, sementara kerusakan terus menggerus aktivitas dan keselamatan mereka. Dalam logika birokrasi, ini soal jadwal. Dalam logika warga, ini soal hak dasar yang terus ditunda.


Ketidakhadiran koordinator aksi dalam pertemuan pun menjadi sinyal lain: komunikasi belum sepenuhnya tersambung. Bahkan melalui pesan singkat, sikap warga tegas—aksi tetap berjalan. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan tidak bisa lagi dibangun hanya dengan rapat dan janji.


Situasi di Talang Belido hari ini adalah potret tarik ulur yang lebih besar: antara kebutuhan mendesak masyarakat dan kesiapan teknis pemerintah yang lamban. Ketika prioritas hanya berhenti di pernyataan, dan realisasi terus bergantung pada antrean alat, maka yang tersisa hanyalah akumulasi kekecewaan.



Jika pemerintah serius ingin meredam gejolak, yang dibutuhkan bukan sekadar kehadiran di lapangan, melainkan keberanian memotong rantai birokrasi yang membuat kebutuhan dasar warga harus menunggu terlalu lama. Karena bagi warga Talang Belido, waktu tunggu itu bukan lagi soal hari—melainkan soal kesabaran yang hampir habis.