Breaking News

Ketua DPRD Aidi Hatta Tanam Pohon Bersamaan Wamentan RI Serta BBS

Dokumen JB 

JB, id, SENGETI - Aksi tanam pohon yang melibatkan Ketua DPRD Aidi Hatta dan Bupati Bambang Bayu Suseno pada Selasa (21/4/2026) di Kabupaten Muaro Jambi tak bisa lagi dibaca sebagai seremoni rutin.


Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, kegiatan ini justru menyorot satu pertanyaan mendasar: apakah komitmen pembangunan berkelanjutan benar-benar akan dijalankan, atau sekadar dikemas dalam simbol hijau yang berulang



Dalam konteks ambisi besar Indonesia Emas 2045, Muaro Jambi berupaya menampilkan diri sebagai daerah yang sadar arah. Namun, klaim menuju pembangunan berkelanjutan tidak cukup ditopang oleh penanaman pohon massal. Ukurannya jelas: kebijakan konkret, konsistensi anggaran, dan keberanian mengoreksi praktik pembangunan yang selama ini cenderung eksploitatif.


Bupati Bambang Bayu Suseno menekankan pentingnya sinergi pusat dan daerah. Pernyataan ini terdengar normatif—bahkan klise—jika tidak diikuti langkah nyata. Tantangan utama bukan lagi koordinasi, melainkan keberanian mengeksekusi kebijakan yang sering kali berbenturan dengan kepentingan ekonomi jangka pendek.


Program Panca Cita kini berada di bawah sorotan. Ia tak bisa hanya menjadi jargon pembangunan. Publik menunggu bukti: apakah program ini mampu mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan, atau justru mengulang pola lama dengan wajah baru.


Dukungan Ketua DPRD Aidi Hatta terhadap sinergi legislatif dan eksekutif juga patut diuji.


Tanpa fungsi pengawasan yang tegas, kolaborasi semacam ini rawan berubah menjadi formalitas politik. DPRD tidak cukup hadir sebagai pendukung—melainkan harus menjadi pengontrol yang memastikan setiap kebijakan berjalan sesuai komitmen.


Kehadiran Karding dan unsur Forkopimda memperlihatkan bahwa agenda ini memiliki dimensi nasional. Namun, publik semakin kritis: simbol kehadiran pejabat tak lagi cukup. Yang dinilai adalah dampak nyata di lapangan—apakah ada perubahan dalam tata kelola lingkungan, atau hanya penguatan citra “politik hijau”.
Penanaman pohon memang sederhana. Tapi justru di situlah letak ujiannya.


Ia bisa menjadi titik awal perubahan kebijakan yang serius—atau sekadar ritual tahunan tanpa arah.



Kini, Muaro Jambi berada di persimpangan. Melanjutkan pola lama yang menitikberatkan pertumbuhan tanpa kendali, atau benar-benar bertransformasi menuju pembangunan berkelanjutan yang konsisten dan terukur.

Pilihan itu tidak ditentukan oleh seremoni hari ini, melainkan oleh keputusan-keputusan sulit yang diambil setelahnya.

© Copyright 2022 - Jambibaba.id