JB, SENGETI - Aksi protes warga Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, dengan menanam pohon pisang di sepanjang jalan rusak menjadi sorotan. Kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki memicu keluhan masyarakat sekaligus menjadi perhatian dari DPRD setempat.
Pemerintah daerah menyatakan perbaikan infrastruktur jalan telah dijadwalkan secara bertahap. Dengan cakupan wilayah mencapai 150 desa dan 5 kelurahan, perbaikan dilakukan berdasarkan skala prioritas.
“Terkait infrastruktur jalan, Pemda sudah punya jadwal. Silakan warga menyampaikan aspirasi, tapi tetap mengikuti schedule yang ada. Perbaikan bisa dilakukan sekarang atau besok, tergantung kondisi dan prioritas,” ujar Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno.
Namun di sisi lain, Ketua DPRD Muaro Jambi, Aidi Hatta, menyoroti faktor lain yang mempercepat kerusakan jalan, yakni aktivitas kendaraan berat milik investor perkebunan kelapa sawit. Menurut dia, tingginya curah hujan turut memperparah kondisi jalan yang sudah terbebani.
“Jalan Talang Belido ini sering dilalui mobil-mobil besar milik perusahaan sawit. Jangan sampai pemerintah yang bangun, pengusaha yang merusak, dan rakyat yang menanggung dampaknya,” kata Aidi Hatta Ketua DPRD Muaro Jambi.
Ia menegaskan dalam waktu dekat DPRD akan memanggil para pelaku usaha perkebunan sawit di wilayah tersebut untuk diminta berkontribusi terhadap perbaikan jalan.
Tak hanya itu, DPRD juga menemukan indikasi adanya kebun sawit skala besar yang tidak memiliki legalitas usaha memadai. Aidi Hatta menyebut sebagian besar lahan hanya berstatus SHM, meski luasnya mencapai lebih dari 100 hektar.
“Ini jadi pertanyaan besar. Masa seorang pengusaha punya kebun sampai 100 hektar tapi tidak mengurus izin usaha? Ini akan kami telusuri dan luruskan,” ujarnya.
Sementara itu, aksi warga menanam pohon pisang dilakukan di ruas jalan sepanjang sekitar satu kilometer yang dipenuhi lubang besar. Saat hujan turun, lubang-lubang tersebut tergenang air dan membahayakan pengguna jalan.
Muhammad, salah seorang pengendara motor, mengaku harus ekstra hati-hati saat melintasi jalan tersebut.
“Kalau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Harus pelan-pelan,” katanya.
Kepala Desa Talang Belido, Fadli, membenarkan aksi tersebut. Ia menyebut jalan yang diprotes warga merupakan jalan kabupaten yang berada di RT 05.
“Warga sudah lama menunggu perbaikan. Penanaman pohon pisang ini murni inisiatif warga sebagai bentuk protes,” ujarnya.
DPRD optimistis persoalan ini dapat ditangani melalui program pemerintah daerah, termasuk workshop yang digagas bupati, sembari menunggu realisasi anggaran perbaikan berikutnya.

Social Header