JB, Id, SARILANGUN - Kondisi memprihatinkan masih terjadi di SDN 191/VII yang berada di Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Hingga kini, proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di ruang kelas darurat akibat kekurangan fasilitas yang layak.
Ruang belajar tersebut hanya berupa bangunan sederhana dari papan dan kayu bekas. Material yang digunakan merupakan sisa-sisa bangunan lama yang dirakit seadanya, jauh dari standar ruang kelas yang semestinya. Kondisi ini tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu konsentrasi dan keselamatan siswa.
Kepala SDN 191/VII, Ade Irma Suryani, mengungkapkan bahwa keterbatasan ruang kelas telah berlangsung cukup lama tanpa adanya solusi nyata.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarolangun, segera turun tangan.
“Dengan kondisi seperti ini, tentu sangat mengganggu proses belajar mengajar. Kami berharap ada perhatian serius dari dinas terkait,” ujarnya.
Sorotan juga datang dari Edi Endra, pemerhati mutu pendidikan di Provinsi Jambi. Ia menilai persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele, karena menyangkut kualitas pendidikan generasi muda, terutama bagi anak-anak dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang jumlahnya cukup banyak di sekolah tersebut.
“Ini bukan sekadar soal kekurangan ruang kelas, tapi menyangkut masa depan anak-anak.
Kalau dibiarkan, mutu pendidikan akan terdampak,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah daerah harus segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar wacana.
Pembangunan ruang kelas baru dinilai mendesak agar siswa dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan layak.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan. Ketika sebagian sekolah mulai berbenah dengan fasilitas modern, masih ada siswa yang harus belajar di ruang darurat yang jauh dari kata layak.

Social Header