Breaking News

Di Balik Seremoni Hari Pendidikan Nasional 2026: Sekolah Reyot, Guru Minim, Murid Berjuang di Muaro Jambi


JB,id,, SENGETI — Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 yang sarat seremoni, potret buram pendidikan justru terlihat jelas di pelosok daerah. Di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, sebuah sekolah dasar negeri masih bergulat dengan persoalan mendasar: bangunan nyaris roboh dan kekurangan tenaga pengajar.
Sekolah Dasar Negeri 232 menjadi gambaran nyata ketimpangan itu. Dinding kayu yang rapuh, atap seng bocor, hingga ruang kelas yang kerap kebanjiran saat hujan menjadi bagian dari keseharian siswa. Kondisi ini memaksa proses belajar mengajar berjalan jauh dari kata layak.


Keterbatasan ruang membuat siswa sekolah dasar harus berbagi gedung dengan siswa sekolah menengah pertama. Sistem belajar pun dibagi dua waktu. Pagi hari digunakan siswa SD, sementara siang hingga sore hari giliran siswa SMP.



“Bangunan tidak memadai, gurunya juga masih kurang. Jadi kami terpaksa mengajar bergantian,” ujar Harminah,
guru yang telah mengabdi selama 13 tahun di SD dan dua tahun di SMP.


Persoalan tidak berhenti pada infrastruktur. Kekurangan guru menjadi beban serius. Saat ini, hanya ada lima guru untuk 103 siswa SD dan dua guru untuk 23 siswa SMP. Akibatnya, satu guru harus mengajar beberapa kelas sekaligus, bahkan lintas jenjang.
Penggabungan kelas pun tak terhindarkan. Siswa kelas satu dan dua belajar dalam satu ruangan yang sama. Dalam kondisi serba terbatas ini, guru seperti Harminah harus merangkap mengajar di dua jenjang sebagai tenaga honorer.


Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di daerah bukan sekadar soal akses, tetapi juga kualitas dan pemerataan. Ketika di satu sisi pendidikan digaungkan sebagai prioritas nasional, di sisi lain masih ada sekolah yang berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar.


Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat belajar siswa dan dedikasi para guru tetap bertahan. Namun, semangat saja tidak cukup untuk menutup kekurangan yang ada.
“Kami mohon ada perhatian dari pemerintah, agar anak-anak bisa belajar di tempat yang lebih layak,” ujar Harminah.


Potret ini menjadi pengingat bahwa di balik perayaan tahunan, masih ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Pemerataan pendidikan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang menuntut tindakan nyata.


© Copyright 2022 - Jambibaba.id