SENGETI - Realisasi investasi di Kabupaten Muaro Jambi pada triwulan I 2026 melonjak tajam hingga hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Muaro Jambi (DPMPTSP) mencatat nilai investasi mencapai Rp788 miliar, naik signifikan dari Rp291 miliar pada triwulan I 2025.
Lonjakan ini menjadi sinyal awal yang kuat bagi kinerja investasi daerah. Namun, di balik angka impresif tersebut, struktur investasi masih menunjukkan ketergantungan tinggi pada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Kepala DPMPTSP Muaro Jambi, Alias, mengakui tren positif ini, tetapi juga menyoroti belum optimalnya kontribusi investor asing.
“Triwulan pertama ini menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Ini jadi modal awal untuk mengejar target tahunan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Dari total Rp788 miliar, PMDN mendominasi dengan Rp768 miliar, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) hanya menyumbang Rp19 miliar. Ketimpangan ini mempertegas bahwa pergerakan investasi di Muaro Jambi masih sangat bergantung pada kekuatan domestik.
Pemerintah daerah pun mulai mendorong keseimbangan komposisi investasi.
“Memang PMDN masih dominan. Tapi kita terus dorong PMA agar lebih seimbang,” kata Alias.
Target ambisius pun dipasang. Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi menargetkan realisasi investasi 2026 bisa melampaui capaian tahun sebelumnya yang sudah tergolong tinggi. Mengacu pada distribusi target dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), daerah optimistis mampu mempertahankan tren positif.
Sebagai catatan, sepanjang 2025 realisasi investasi Muaro Jambi mencapai Rp4,6 triliun—melonjak hingga 354 persen dari target Rp1,3 triliun. Dari jumlah tersebut, PMDN menyumbang Rp4,5 triliun, sedangkan PMA hanya Rp56 miliar.
Dominasi sektor tradisional juga masih terlihat. Investasi terbesar berasal dari perkebunan, industri pengolahan, transportasi dan telekomunikasi, serta sektor perumahan.
Ke depan, pemerintah daerah berupaya mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tersebut.
“Kita akan dorong diversifikasi supaya investasi tidak terfokus di sektor tertentu saja,” ujar Alias.
Meski angka investasi terus naik, tantangan utama tetap pada peningkatan kualitas dan pemerataan investasi. Pemerintah menilai, konsistensi kebijakan dan reformasi layanan perizinan menjadi kunci menjaga kepercayaan investor.
“Kami terus benahi pelayanan agar lebih cepat dan transparan. Harapannya investor merasa nyaman dan terus masuk,” tutupnya.

Social Header