Breaking News

Lopak Sepang Bukan Sekadar Festival, Sekda Muaro Jambi Bidik Tebat Patah Jadi Destinasi Wisata Budaya

 


SENGETI - Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, mulai membidik peluang lebih besar dari kekayaan budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat.


Melalui Pasar Budaya Lopak Sepang yang digelar 26–27 September 2026, tradisi lokal, seni, kreativitas masyarakat, hingga produk UMKM dipadukan dalam satu ruang yang tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga didorong menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata desa.


Pasar Budaya Lopak Sepang resmi dibuka, Sabtu (26/9/2026), oleh Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Feri Arlius. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Budhi Hartono.


Bagi Pemkab Muaro Jambi, kegiatan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar perhelatan budaya tahunan. Ada potensi besar yang bisa dikembangkan dari tradisi masyarakat Tebat Patah untuk menjadi daya tarik wisata berbasis budaya.


Sekda Muaro Jambi Budhi Hartono mengatakan, warisan budaya harus ditempatkan sebagai sesuatu yang hidup dan terus berkembang, bukan sekadar peninggalan masa lalu.


“Peninggalan budaya yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan harus terus kita lestarikan. Anak-anak muda harus ikut mengambil peran agar seni dan tradisi tidak hanya menjadi warisan generasi terdahulu, tetapi terus tumbuh dan berkembang,” katanya.


Menurut Budhi, pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Identitas serta nilai budaya masyarakat juga menjadi bagian penting yang harus dijaga.


“Ilmu pengetahuan penting untuk kemajuan, tetapi adab dan budaya adalah fondasi dalam kehidupan. Karena itu, generasi muda harus dibekali bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga karakter dan nilai budaya,” ujarnya.


Ia melihat Pasar Budaya Lopak Sepang sebagai titik temu antara kebudayaan, ekonomi kerakyatan dan pariwisata.
Produk UMKM yang dipasarkan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi wisata, sementara tradisi dan seni lokal menjadi daya tarik yang membuat masyarakat dari luar desa tertarik datang dan mengenal Tebat Patah.


“Kalau budaya, UMKM dan pariwisata kita gerakkan bersama, tentu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Inilah yang harus terus kita bangun,” ujar Budhi.


Karena itu, ia berharap Lopak Sepang tidak berhenti sebagai agenda seremonial yang digelar sekali dalam setahun. Kegiatan tersebut harus dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memiliki daya tarik yang semakin kuat.

Targetnya jelas: potensi budaya Tebat Patah tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi mampu menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Kabupaten Muaro Jambi.


“Harapan kami kegiatan ini terus berkembang dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Kita ingin potensi budaya Desa Tebat Patah semakin dikenal dan ke depan bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Muaro Jambi,” jelasnya.
Budhi juga mengingatkan generasi muda agar tidak memandang budaya sebagai sesuatu yang kuno dan terpisah dari kehidupan modern.


Sebaliknya, budaya dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru apabila dikemas secara menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai anak-anak muda merasa budaya itu sesuatu yang kuno. Justru budaya bisa menjadi sumber kreativitas, kebanggaan dan peluang ekonomi. Yang penting nilai-nilai baiknya tetap kita jaga,” tandasnya.


Dengan konsep tersebut, Pasar Budaya Lopak Sepang diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekosistem budaya dan ekonomi masyarakat Desa Tebat Patah—menjadikan tradisi bukan hanya sesuatu yang diwariskan, tetapi juga sesuatu yang mampu menghidupi dan menggerakkan masyarakat.

© Copyright 2022 - Jambibaba.id